Laman

Tampilkan postingan dengan label MILITER. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label MILITER. Tampilkan semua postingan

Senin, 12 Desember 2011

TNI AU

TNI AU lahir dengan dibentuknya Badan Keamanan Rakyat (BKR) pada Tanggal 23 Agustus 1945, guna memperkuat Armada Udara yang saat itu berkekurangan pesawat terbang dan fasilitas-fasilitas lainnya. pada tanggal 5 Oktober 1945 berubah menjadi Tentara Keamanan Rakyat (TKR) jawatan penerbangan di bawah Komodor Udara Soerjadi Soerjadarma.
Pada tanggal 23 Januari 1946 TKR ditingkatkan lagi menjadi TRI, sebagai kelanjutan dari perkembangan tunas Angkatan Udara. Pada tanggal 9 April 1946, TRI jawatan penerbangan dihapuskan dan diganti menjadi Angkatan Udara Republik Indonesia, yang kini diperingati sebagai hari lahirnya TNI AU yang diresmikan bersamaan dengan berdirinya Tentara Nasional Indonesia (TNI).
Pada 29 Juli 1947 tiga kadet penerbang TNI AU masing-masing Kadet Mulyono, Kadet Suharnoko Harbani dan Kadet Sutarjo Sigit dengan menggunakan dua pesawat Cureng dan satu Guntei berhasil melakukan pemboman terhadap kubu-kubu pertahanan Belanda di tiga tempat, masing-masing di kota Semarang, Salatiga, dan Ambarawa.
Modal awal TNI AU adalah pesawat-pesawat hasil rampasan dari tentara Jepang seperti jenis Cureng, Nishikoren, serta Hayabusha. Pesawat-pesawat inilah yang merupakan cikal bakal berdirinya TNI AU. Setelah keputusan Konferensi Meja Bundar tahun 1949, TNI AU menerima beberapa aset Angkatan Udara Belanda meliputi pesawat terbang, hanggar, depo pemeliharaan, serta depot logistik lainnya. Beberapa jenis pesawat Belanda yang diambil alih antara lain C-47 Dakota, B-25 Mitchell, P-51 Mustang, AT-6 Harvard, PBY-5 Catalina, dan Lockheed L-12.
Tahun 1950, TNI AU mengirimkan 60 orang calon penerbang ke California Amerika Serikat, mengikuti pendidikan terbang pada Trans Ocean Airlines Oakland Airport (TALOA). Saat itu TNI AU mendapat pesawat tempur dari Uni Soviet dan Eropa Timur, berupa MiG-17, MiG-19, MiG-21, pembom ringan Tupolev Tu-2, dan pemburu Lavochkin La-11. Pesawat-pesawat ini mengambil peran dalam Operasi Trikora dan Dwikora.
TNI AU mengalami popularitas nasional tinggi dibawah dipimpin oleh KASAU Kedua Marsekal Madya TNI Omar Dhani awal 1960-an. TNI AU memperbarui armadanya pada awal tahun 1980-an dengan kedatangan pesawat OV-10 Bronco, A-4 Sky Hawk, F-5 Tiger, F-16 Fighting Falcon, dan Hawk 100/200.

KAPAL ANGKATAN DARAT

Pengetahuan Militer : Kapal Angkatan Darat Republik Indonesia




Kapal Angkatan Darat Republik Indonesia (KM. ADRI) adalah kapal laut milik TNI AD yang bernaung di bawah Direktorat Perbekalan dan Angkutan. Kapal ini berfungsi sebagai angkutan untuk penyaluran logistik,persentaan (alutsista) dan bahan materil yang diperlukan oleh satuan - satuan TNI AD di seluruh Indonesia. KM ADRI juga bertugas dalam pergeseran pasukan darat. Meskipun bukan kapal perang, namun KM ADRI sering melakukan patroli laut secara bergantian dengan Kapal perang TNI AL dan kapal patroli milik Kepolisian RI terutama untuk wilayah Indonesia bagian timur. Kebanyakan model KM ADRI berbentuk LCT / LCU yang dapat berlayar di tempat dangkal seperti sungai sehingga pendistribusian barang bisa lebih maksimal.

Dalam kegiatan operasional ditbekang, para personel ABK dan prajurit perbekalan "spesialisasi air" diwadahi dalam satu batalyon yang dinamakan Batalyon Perbekalan Angkutan -4/ Air yang bermarkas di Tanjung Priok Jakarta Utara. Para ABK tersebut sebelum menjadi awak kapal, dididik terlebih dahulu sama seperti halnya para personel ABK atas air dari TNI AL. Mereka disekolahkan menjadi ABK di Pusdikbekangad sebagai pengetahuan dasar dan setelah itu disekolahkan ke pusdikopsla di KODIKAL untuk menjadi pelaut yang handal.